Perhatikan Perempuan Kalau Emoh “Kiamat” Duluan


Mari sejenak mencermati laporan bertajuk Keadaan Penduduk Dunia 2009 yang merupakan hasil kerja Badan Kependudukan PBB. Salah satu hal yang patut dicermati adalah membendung peningkatan jumlah penduduk yang merupakan faktor penentuan dalam upaya menangani masalah perubahan iklim. Laporan itu mengemukakan bahwa upaya keluarga berencana yang sudah diperbaiki serta usaha mengubah peran perempuan dapat memengaruhi arah perubahan iklim di masa depan.

Laporan tersebut juga mengungkapkan perjanjian-perjanjian internasional mengenai iklim. Besar kemungkinan itu akan berhasil jika masalah penduduk diperhitungkan.Masalahnya, sebagaimana dikutip dari BBC, Kamis (19/11), peran pertumbuhan penduduk sudah lama merupakan masalah yang memancing pertikaian pendapat ketika memperdebatkan berbagai penyebab dan pemecahan masalah perubahan iklim.

Sekarang, untuk pertama kalinya, badan yang mengurusi masalah kependudukan PBB menyoroti masalah tersebut melalui laporan tahunannya. Mereka memusatkan perhatian pada peran rakyat pada umumnya dalam masalah peningkatan suhu udara dan dalam kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi sebagai akibatnya.

Bertambah

Jumlah penduduk Bumi sekarang mencapai hampir 7 miliar orang. Ke depan, angka ini diperkirakan akan terus bertambah mencapai sekitar 9 miliar orang menjelang pertengahan abad ini. Menurut laporan tersebut, menurunkan laju pertumbuhan tersebut berarti akan mengurangi emisi gas rumah kaca di masa depan.Menurut PBB, kaum perempuan adalah yang paling rentan tehadap perubahan cuaca, lebih besar kemungkinan mereka tewas akibat bencana alam, dan Jumlah mereka lebih besar dalam angkatan kerja sektor pertanian di banyak negara.

Memperbaiki peran mereka dalam kaitannya dengan keluarga berencana serta pertumbuhan ekonomi akan menjadi satu senjata penting dalam upaya memerangi pemanasan global. Direktur Eksekutif Dana Penduduk PBB Thoraya Ahmed Obaid mengatakan bahwa peran perempuan sangat penting, “Itu adalah pemberdayaan pertama untuk menentukan jumlah anggota keluarga mereka, serta kapan dan berapa jumlah anak yang akan dimiliki,” ungkapnya.”Sedangkan hal lain adalah memberdayakan mereka untuk menjadi bagian dalam pembuatan keputusan dan untuk mendapatkan alternatif hidup yang akan terkena dampak akibat perubahan iklim,” tambah Obaid.

Masalah lain yang juga menjadi keprihatinan adalah dampak perubahan iklim terhadap perpindahan penduduk. Menurut Thoraya Obaid, sebuah rencana harus dibuat untuk mendahului perubahan dan perpindahan tersebut. Para penyusun laporan itu berdalih bahwa perjanjian apa pun yang keluar dari pembicaraan mengenai perubahan iklim di Kopenhagen bulan depan harus memperhitungkan masalah penduduk dan jender jika memang ingin berhasil dalam jangka lama.

Kompas Dot Com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s